Kendati Hindu bukanlah agama mayoritas di
Lombok, namun bukan berarti nafas religinya sama sekali tidak ada.
Warga Hindu sudah hidup dan mengakar di Lombok, termasuk mereka yang
berasal dari Bali. Ya, etnis Bali memang sudah lama mendiami Lombok
secara turun temurun. Berbagai kebudayaan dan tradisi masyarakat Bali
hidup dan berdampingan dengan kebudayaan dan tradisi asli masyarakat
Lombok. Sedikitnya dari 500 ribu penduduk kota Mataram, 30 persen
diantaranya adalah umat Hindu. Itu mengapa setiap sehari sebelum Nyepi
atau peringatan tahun baru Saka 1730 dilaksanakan pawai ogoh-ogoh
mengundang perhatian dari seluruh warga, khususnya kota Mataram yang
justru mayoritas penduduknya beragama Islam.
Makna
dari ogoh-ogoh adalah patung yang melambangkan Buta Kala yang
diharapkan dapat menetralisir roh-roh jahat yang menguasai alam manusia
antara kebaikan dan keburukan yang bisa disebut dengan “balance of the
world”. Macam-macam ogoh-ogoh Buta Kala yang biasa dibuat oleh
masyarakat adalah Kala Bang, Kala Ijo, Kala Dengen, Kala Lampah, Kala
Ireng dan beberapa bentuk lainnya sebagai perlambang sifat-sifat negatif
yang harus dilebur agar tidak mengganggu kehidupan manusia. Ogoh-ogoh
Buta Kala yang diciptakan kemudian dihaturkan sesaji “natab caru
pabiakalan” yakni sebuah ritual yang bermakna “nyomia”, mengembalikan
sifat-sifat Buta Kala ke asalnya. Ritual itu dilanjutkan dengan prosesi
pawai. Seluruh masyarakat bersama-sama mengusung ogoh-ogoh mengelilingi
jalan-jalan desa dan mengitari catus para sebagai simbol siklus sakral
perputaran waktu menuju ke pergantian tahun Caka yang baru. Setelah itu,
ogoh-ogoh dilebur atau dibakar. Prosesi ogoh-ogoh merupakan serangkaian
dengan upacara Tawur Kesanga.
Pada
2011 lalu, pawai ogoh-ogoh diikuti oleh 150 ogoh-ogoh yang berasal dari
108 koordinator ogoh-ogoh yang ada di seluruh kota Mataram. Arak-arakan
dimulai dari Cakranegara yang merupakan pusat bisnis kota Mataram.
Ogoh-ogoh yang dibuat menyeramkan itu sudah siap di Jalan Pejanggik.
Usai sholat Jumat, hingar bingar gamelan ditabuh. Ribuan warga Mataram
tumpah ruah di sisi jalan Pejanggik dan jalan Langko, sepanjang 11
kilometer yang menjadi alur arak-arakan. Pada tahun 2012 ini tepatnya
pada 22 Maret, pawai ogoh-ogoh disemarakkan dengan 115 ogoh-ogoh.
Peserta pawai berasal dari kota Mataram dan beberapa daerah di Lombok
Barat seperti Narmada, Gunung Sari, Gerung, Sekotong dan Lingsar. Sama
halnya dengan pawai di tahun sebelumnya, ritual ini diramaikan oleh
ribuan masyarakat yang menyemut di sepanjang jalan Selaparang
Cakranegara. Wisatawan asing yang kebetulan sedang berwisata ke Lombok
pun tak kalah antusias dengan warga yang berdesak-desakan melihat pawai
setahun sekali ini.
No comments:
Post a Comment