Monday, 7 July 2014

BUDAYA LOMBOK
PERANG KETUPAT DI PURA LINGSAR

tradisi yang dilaksanakan turun temurun selama ratusan tahun di Desa Lingsar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, itu justru memperkokoh  kerukunan antara umat Muslim dan umat Hindu di sana
“Sejak leluhur, turun temurun selalu melaksanakan tradisi ini. Biasanya habis panen raya, sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan dan juga berharap  agar musim tanam ini mendapat kesuburan. Ini juga mempererat hubungan sosial dengan teman Hindu,” kata Sahyan (36), warga Desa Lingsar yang  juga sebagai pengurus di bangunan Kemaliq.
Setiap tahun masyarakat Desa Lingsar melaksanakan perang topat di kompleks Pura Lingsar, sebuah Pura yang dibangun pada tahun 1759 pada  zaman Raja Anak Agung Gede Ngurah, keturunan Raja Karangasem Bali yang sempat berkuasa di sebagian pulau Lombok pada abad ke 17 silam.
Pura Lingsar terletak sekitar 9 Km arah Timur dari Kota Mataram, dan bisa dibilang bangunan Pura paling unik se-nusantara. Sebab, di dalam kompleks  Pura Lingsar terdapat dua bangunan besar yakni Pura Gaduh sebagai tempat persembahyangan umat Hindu, dan bangunan Kemaliq yang disakralkan  sebagian umat muslim Sasak dan masih digunakan untuk upacara-upacara ritual adat hingga kini.
Dua bangunan itu dibangun dengan arsitektur Bali , berdiri berdampingan tanpa jarak. Di depannya ada dua jabe atau pelataran halaman. Karena  keunikannya sejak 1990-an komplek Pura Lingsar ditetapkan sebagai benda cagar budaya.
Masyarakat Desa Lingsar selalu menggelar ritual perang topat pada hari ke 15 bulan ke tujuh pada penanggalan Sasak Lombok, yang disebut purnama  sasih kepitu (Purnama bulan ketujuh), atau hari ke 15 bulan ke enam pada penanggalan Hindu Bali, yang disebut purnama sasi kenem (Purnama bulan  keenam). Itu tepat pada malam bulan Purnama, yang tahun ini jatuh pada hari Sabtu, 10 Desember 2011.
Pada malam Purnama itu, umat Hindu merayakan odalan atau ulang tahun Pura Lingsar, dengan melaksanakan upacara Pujawali. Sedangkan umat  muslim melaksanakan napak tilas memperingati jasa Raden Mas Sumilir, seorang penyiar agama Islam dari Demak, Jawa Tengah, yang menyiarkan  Islam di Lombok pada abad 15.

No comments:

Post a Comment