Wednesday, 9 July 2014

PUSAT KERAJINAN GERABAH


gerabah banyumulek
Kerajinan gerabah di Banyumulek Lombok dan Pulau Lombok sudah ada sejak dahulu kala dan diwariskan langsung oleh nenek moyang kepada generasi berikutnya dan begitu seterusnya, sehinggan kerajinan gerabah di Desa Banyumulek dan Pulau Lombok hingga sekarang masih ada. Sejarah dari kerajinan gerabah bermula dari sebuah cerita legenda yang berkembang di masyarakat yang menceritakan dimana Dewi Anjani yaitu penguasa Gunung Rinjani mengutus seekor burung, burung bere untuk menolong serta mengajarkan cara menanak nasi kepada sepasang suami istri yang saat itu baru pertama kali memanen hasil pertaniannya. Burung tersebut juga mengajarkan masyarakat setempat membuat periuk dari tanah liat yang berasal dari dataran tinggi. Oleh karena itu, masyarakat setempat percaya bahwa sejak saat itulah ketrampilan membuat gerabah mampu berkembang dari masa ke masa.
Kerajinan gerabah di Desa Banyumulek secara umum telah mampu menembus pasar internasional dengan catatan 28 negara tujuan ekspor. Beberapa negara yang menginginkan ekspor gerabah tersebut adalah New Zealand, Amerika Serikat, Italia, Belanda, Malaysia, Spanyol, Norway, dan Denmark. Pada tahun 2002, nilai ekspor kerajinan gerabah Desa Banyumulek tercatat mencapai 1.116 juta dollar Amerika. Dengan terkenalnya kerajinan gerabah tersebut, seharusnya masyarakat mampu menjadikan kerajinan gerabah tersebut sebagai pemasukan negara.
Nah, bagaimana anda tertarik untuk mengunjungi objek wisata Desa Banyumulek setelah anda menyimak penjelasan dari saya mengenai desa tersebut ?
PARADE OGOH -OGOHDI LOMBOK




Kendati Hindu bukanlah agama mayoritas di Lombok, namun bukan berarti nafas religinya sama sekali tidak ada. Warga Hindu sudah hidup dan mengakar di Lombok, termasuk mereka yang berasal dari Bali. Ya, etnis Bali memang sudah lama mendiami Lombok secara turun temurun. Berbagai kebudayaan dan tradisi masyarakat Bali hidup dan berdampingan dengan kebudayaan dan tradisi asli masyarakat Lombok. Sedikitnya dari 500 ribu penduduk kota Mataram, 30 persen diantaranya adalah umat Hindu. Itu mengapa setiap sehari sebelum Nyepi atau peringatan tahun baru Saka 1730 dilaksanakan pawai ogoh-ogoh mengundang perhatian dari seluruh warga, khususnya kota Mataram yang justru mayoritas penduduknya beragama Islam.
Makna dari ogoh-ogoh adalah patung yang melambangkan Buta Kala yang diharapkan dapat menetralisir roh-roh jahat yang menguasai alam manusia antara kebaikan dan keburukan yang bisa disebut dengan “balance of the world”. Macam-macam ogoh-ogoh Buta Kala yang biasa dibuat oleh masyarakat adalah Kala Bang, Kala Ijo, Kala Dengen, Kala Lampah, Kala Ireng dan beberapa bentuk lainnya sebagai perlambang sifat-sifat negatif yang harus dilebur agar tidak mengganggu kehidupan manusia. Ogoh-ogoh Buta Kala yang diciptakan kemudian dihaturkan sesaji “natab caru pabiakalan” yakni sebuah ritual yang bermakna “nyomia”, mengembalikan sifat-sifat Buta Kala ke asalnya. Ritual itu dilanjutkan dengan prosesi pawai. Seluruh masyarakat bersama-sama mengusung ogoh-ogoh mengelilingi jalan-jalan desa dan mengitari catus para sebagai simbol siklus sakral perputaran waktu menuju ke pergantian tahun Caka yang baru. Setelah itu, ogoh-ogoh dilebur atau dibakar. Prosesi ogoh-ogoh merupakan serangkaian dengan upacara Tawur Kesanga.
Pada 2011 lalu, pawai ogoh-ogoh diikuti oleh 150 ogoh-ogoh yang berasal dari 108 koordinator ogoh-ogoh yang ada di seluruh kota Mataram. Arak-arakan dimulai dari Cakranegara yang merupakan pusat bisnis kota Mataram. Ogoh-ogoh yang dibuat menyeramkan itu sudah siap di Jalan Pejanggik. Usai sholat Jumat, hingar bingar gamelan ditabuh. Ribuan warga Mataram tumpah ruah di sisi jalan Pejanggik dan jalan Langko, sepanjang 11 kilometer yang menjadi alur arak-arakan. Pada tahun 2012 ini tepatnya pada 22 Maret, pawai ogoh-ogoh disemarakkan dengan 115 ogoh-ogoh. Peserta pawai berasal dari kota Mataram dan beberapa daerah di Lombok Barat seperti Narmada, Gunung Sari, Gerung, Sekotong dan Lingsar. Sama halnya dengan pawai di tahun sebelumnya, ritual ini diramaikan oleh ribuan masyarakat yang menyemut di sepanjang jalan Selaparang Cakranegara. Wisatawan asing yang kebetulan sedang berwisata ke Lombok pun tak kalah antusias dengan warga yang berdesak-desakan melihat pawai setahun sekali ini.

Monday, 7 July 2014

BAU NYALEE..........DI KUTA YUUUKKK!!!


Sejarah Putri Nyale, Cerita Rakyat Lombok Tengah | Pada zaman dahulu di pantai selatan Pulau Lombok terdapat sebuah kerajaan yang bernama Tonjang Beru. Sekeliling di kerajaan ini dibuat ruangan - ruangan yang besar. Ruangan ini digunakan untuk pertemuan raja - raja. Negeri Tonjang Beru ini diperintah oleh raja yang terkenal akan kearifan dan kebijaksanaannya Raja itu bernama raja Tonjang Beru dengan permaisurinya Dewi Seranting.

Baginda mempunyai seorang putri, namanya Putri Mandalika. Ketika sang putri menginjak usia dewasa, amat elok parasnya. Ia sangat anggun dan cantik jelita. Matanya laksana bagaikan bintang di timur. Pipinya laksana pauh dilayang. Rambutnya bagaikan mayang terurai. Di samping anggun dan cantik ia terkenal ramah dan sopan. Tutur bahasanya lembut. Itulah yang membuat sang putri menjadi kebanggaan para rakyatnya.

Semua rakyat sangat bangga mempunyai raja yang arif dan bijaksana yang ingin membantu rakyatnya yang kesusahan. Berkat segala bantuan dari raja rakyat negeri Tonjang Beru menjadi hidup makmur, aman dan sentosa. Kecantikan dan keanggunan Putri Mandalika sangat tersohor dari ujung timur sampai ujung barat pulau Lombok. Kecantikan dan keanggunan sang putri terdengar oleh para pangeran - pangeran yang membagi habis bumi Sasak (Lombok). Masing - masing dari kerajaan Johor, Lipur, Pane, Kuripan, Daha, dan kerajaan Beru. Para pangerannya pada jatuh cintar. Mereka mabuk kepayang melihat kecantikan dan keanggunan sang putri.

Mereka saling mengadu peruntungan, siapa bisa mempersunting Putri Mandalika. Apa daya dengan sepenuh perasaan halusnya, Putri Mandalika menampik. Para pangeran jadi gigit jari. Dua pangeran amat murka menerima kenyataan itu. Mereka adalah Pangeran Datu Teruna dan Pangeran Maliawang. Masing - masing dari kerajaan Johor dan kerajaan Lipur. Datu Teruna mengutus Arya Bawal dan Arya Tebuik untuk melamar, dengan ancaman hancurnya kerajaan Tonjang Beru bila lamaran itu ditolaknya. Pangeran Maliawang mengirim Arya Bumbang dan Arya Tuna dengan hajat dan ancaman yang serupa.

Putri Mandalika tidak bergeming. Serta merta Datu Teruna melepaskan senggeger Utusaning Allah, sedang Maliawang meniup Senggeger Jaring Sutra. Keampuhan kedua senggeger ini tak kepalang tanggung dimata Putri Mandalika, wajah kedua pangeran itu muncul berbarengan. Tak bisa makan, tak bisa tidur, sang putri akhirnya kurus kering. Seisi negeri Tonjang Beru disaput duka.

cacing nyale dari lombok tengah - http://www.munsypedia.blogspot.com/Kenapa sang putri menolak lamaran ? Karena, selain rasa cintanya mesti bicara, ia juga merasa memikul tanggung jawab yang tidak kecil. Akan timbul bencana manakala sang putri menjatuhkan pilihannya pada salah seorang pangeran. Dalam semadi, sang putri mendapat wangsit agar mengundang semua pangeran dalam pertemuan pada tanggal 20 bulan 10 ( bulan Sasak ) menjelang pagi - pagi buta sebelum adzan subuh berkumandang. Mereka harus disertai oleh seluruh rakyat masing - masing. Semua para undangan diminta datang dan berkumpul di pantai Kuta. Tanpa diduga - duga enam orang para pangeran datang, dan rakyat banyak yang datang, ribuan jumlahnya. Pantai yang didatangi ini bagaikan dikerumuni semut.

Ada yang datang dua hari sebelum hari yang ditentukan oleh sang putri. Anak - anak sampai kakek - kakek pun datang memenuhi undangan sang putri ditempat itu. Rupanya mereka ingin menyaksikan bagaimana sang putri akan menentukan pilihannya. Pengunjung berduyun - duyun datang dari seluruh penjuru pulau Lombok. Merekapun berkumpul dengan hati sabar menanti kehadiran sang putri.

Betul seperti janjinya. Sang putri muncul sebelum adzan berkumandang. Persis ketika langit memerah di ufuk timur, sang putri yang cantik dan anggun ini hadir dengan diusung menggunakan usungan yang berlapiskan emas. Prajurit kerajaan berjalan di kiri, di kanan, dan di belakang sang putri. Sungguh pengawalan yang ketat. Semua undangan yang menunggu berhari - hari hanya bisa melongo kecantikan dan keanggunan sang putri. Sang putri datang dengan gaun yang sangat indah. Bahannya dari kain sutera yang sangat halus.

Tidak lama kemudian, sang putri melangkah, lalu berhenti di onggokan batu, membelakangi laut lepas. Disitu Putri Mandalika berdiri kemudian ia menoleh kepada seluruh undangannya. Sang putri berbicara singkat, tetapi isinya padat, mengumumkan keputusannya dengan suara lantang dengan berseru : ??Wahai ayahanda dan ibunda serta semua pangeran dan rakyat negeri Tonjang Beru yang aku cintai. Hari ini aku telah menetapkan bahwa diriku untuk kamu semua. Aku tidak dapat memilih satu diantara pangeran. Karena ini takdir yang menghendaki agar aku menjadi Nyale yang dapat kalian nikmati bersama pada bulan dan tanggal saat munculnya Nyale di permukaan laut.??

Bersamaan dan berakhirnya kata - kata tersebut para pangeran pada bingung rakyat pun ikut bingung dan bertanya - tanya memikirkan kata - kata itu. Tanpa diduga - duga sang putri mencampakkan sesuatu di atas batu dan menceburkan diri ke dalam laut yang langsung di telan gelombang disertai dengan angin kencang, kilat dan petir yang menggelegar.

Tidak ada tanda - tanda sang putri ada di tempat itu. Pada saat mereka pada kebingungan muncullah binatang kecil yang jumlahnya sangat banyak yang kini disebut sebagai Nyale. Binatang itu berbentuk cacing laut. Dugaan mereka binatang itulah jelmaan dari sang putri. Lalu beramai - ramai mereka berlomba mengambil binatang itu sebanyak - banyaknya untuk dinikmati sebagai rasa cinta kasih dan pula sebagai santapan atau keperluan lainnya.
Itulah kisah Bau Nyale. Penangkapan Nyale menjadi tradisi turun - temurun di pulau Lombok. Pada saat acara Bau Nyale yang dilangsungkan pada masa sekarang ini, mereka sejak sore hari mereka yang akan menangkap Nyale berkumpul di pantai mengisi acara dengan peresean, membuat kemah dan mengisi acara malam dengan berbagai kesenian tradisional seperti Betandak (berbalas pantun), Bejambik (pemberian cendera mata kepada kekasih), serta Belancaran (pesiar dengan perahu). Dan tak ketinggalan pula, digelar drama kolosal Putri Mandalika di pantai Seger.
************
etiap tanggal duapuluh bulan kesepuluh dalam penanggalan Sasak atau lima hari setelah bulan purnama, menjelang fajar di pantai Seger Kabupaten Lombok Tengah selalu berlangsung acara menarik yang dikunjungi banyak orang termasuk wisatawan. Acara yang menarik itu bernama Bau Nyale. Bau dari bahasa Sasak artinya menangkap. Sedangkan Nyale, sejenis cacing laut yang hidup di lubang - lubang batu karang di bawah permukaan laut.

Penduduk setempat mempercayai Nyale memiliki tuah yang dapat mendatangkan kesejahteraan bagi yang menghargainya dan mudarat bagi orang yang meremehkannya.??Itulah yang berkembang selama ini,?? ujar Lalu Wirekarme yang pernah menjabat sebagai Kepala Sub Dinas Pemasaran Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Tengah.

Tradisi menangkap Nyale (bahasa sasak Bau Nyale) dipercaya timbul akibat pengaruh keadaan alam dan pola kehidupan masyarakat tani yang mempunyai kepercayaan yang mendasar akan kebesaran Tuhan, menciptakan alam dengan segala isinya termasuk binatang sejenis Anelida yang disebut Nyale. Kemunculannya di pantai Lombok Selatan yang ditandai dengan keajaiban alam sebagai rahmat Tuhan atas makhluk ini.

Beberapa waktu sebelum Nyale keluar hujan turun deras dimalam hari diselingi kilat dan petir yang menggelegar disertai dengan tiupan angin yang sangat kencang. Diperkirakan pada hari keempat setelah purnama, malam menjelang Nyale hendak keluar, hujan menjadi reda, berganti dengan hujan rintik - rintik, suasana menjadi demikian tenang, pada dini hari Nyale mulai menampakkan diri bergulung - gulung bersama ombak yang gemuruh memecah pantai, dan secepat itu pula Nyale berangsur - angsur lenyap dari permukaan laut bersamaan dengan fajar menyingsing di ufuk timur.

Dalam kegiatan ini terlihat yang paling menonjol adalah fungsi solidaritas dan kebersamaan dalam kelompok masyarakat yang dapat terus dipertahankan karena ikut mendukung kelangsungan budaya tradisional.

Keajaiban Nyale bagi suku Sasak Lombok telah menimbulkan dongeng tentang kejadian yang tersebar hampir keseluruh lapisan masyarakat Lombok dan sekitarnya. Dongeng ini sangat menarik dengan cerita yang sangat romantis dan berkembang melalui penuturan orang - orang tua yang kemudian tersusun dalam naskah tentang legenda Nyale.
SEJARAH KEBUDAYAAN PRESEAN LOMBOK.............


Presean adalah merupakan salah satu dari sekian banyak warisan kekayaan budaya di Gumi  LOMBOK Sileparang. warisan budaya yang satu ini tergolong unik  dan mempunyai daya tarik yang luar biasa dibidang pariwisata baik lokal maupun manca Negara.disamping unik presean juga terbukti dapat memacu adrenalin, bagaimana tidak?untuk mengikuti presean dibutuhkan cukup keberanian untuk menghadapi rasa sakit terkena pukulan lawan menggunakan senjata rotan yang berlapis aspal. tidak sedikit dari mereka yang ikut di ajang presean ini mendapatkan luka memar(bilet=sasak) dan bahkan mengeluarkan darah. presean berlangsung selama tiga ronde dengan pada masing-masing ronde berdurasi 3 menit. presean akan dihentikan dan pemain dikatakan kalah ketika mengluarkan darah dari kepala (bocor).
Presean bukan ajang pukul pukulan, adu berani, unjuk gigi, akan tetapi banyak pesan moril yang sangat dalam yang disampaikan terutama jiwa sportifitas yang tinggi dan persabatan. pertandingan antar pepadu hampir tidak pernah menyisakan dendam walaupun menyisakan bekas luka dimasing-masing badan,  pertandingan presean biasanya berakhir dengan berpelukan dan mempererat persabatan, bahkan ketika selesai bertanding tidak jarang dari para pepadu saling mengundang untuk mendatangi rumah masing-masing sambil membicarakan tentang pertandingan mereka di arena dengan akrab dan senyum sembari menikmati segelas kopi.
 Satu rasa yang sangat kuat yang tertanam dihati saya saat itu melihat para pepadu bertarung sambil sesekali menampilkan tarian dengan gerakan khas Lombok.  Saya bangga menjadi bagian dari para pepadu itu, Bangga menjadi anak Lombok.
WAYANG KULIT SEBAGAI KEBUDAYAAN KHAS LOMBOK.......


Ini adalah wayang kulit asli Pulau Lombok.
Bisa dikatakan hampir punah.
Pemberian nama masing2 wayang masih dalam tahap pengerjaan.
Silahkan bila ada tokoh/pelaku/yang mengerti mengenai wayang asli Lombok ini untuk dapat memberikan masukkan. Silahkan kirim ke email kami.

"Selamatkan budaya asli Lombok"

Indonesia yang terdiri dari 13.700 pulau dan kepulauan dihuni oleh suku bangsa yang berbeda-beda, memiliki unsur kebudayaan yang berbeda pula. Pulau Lombok dengan penduduk asli suku Sasak yang sebagian besar beragama Islam terdapat seni pertunjukan tradisional wayang kulit sasak yang sudah dikenal sejak masa lampau hingga saat ini masih berkembang dan sangat digemari oleh masyarakat sasak.
TARI RUDAT SEBAGAI KEBUDAYAAN LOMBOK.......




Tari Rudat adalah sebuah tari tradisional yang masih banyak terdapat di Pulau Lombok. Dibawakan oleh 13 penari yang berdandan mirip prajurit. Berbaju lengan panjang warna kuning, celana sebatas lutut warna biru, berkopiah panjang mirip Aladin warna merah yang dililit kain warna putih atau biasa disebut tarbus. Mereka dipimpin oleh seorang komandan yang mengenakan kopiah mirip mahkota, lengkap dengan pedang di tangan.

Biasanya tarian ini dibawakan pada saat upacara khitanan, katam Al Quran, Maulid Nabi peringatan Isra Mi’raj, dan peringatan hari-hari besar Islam lainnya.

Tari Rudat ditarikan sambil menyanyi dengan lagu yang melodi dan iramanya seperti lagu melayu. Syairnya ada yang berbahasa Arab dan ada pula yang berbahasa Indonesia. Tari Rudat diiringi sejumlah alat musik rebana yang terdiri dari jidur, rebana, dap, mandolin dan biola. Gerak tarian rudat merupakan  gerak seni bela diri pencak silat yang menggambarkan sikap waspada dan siap siaga prajurit Islam tempo dulu.

Itulah sebabnya, mereka banyak menggunakan gerakan tangan dan kaki. Kadang tangan diayun kiri kanan, kadang mirip gelombang, tapi di saat lain mereka melakukan gerakan memukul dan menendang.

Sesungguhnya asal-usul kesenian rudat sampai saat ini masih belum begitu jelas. Sebagian berpendapat, bahwa kesenian rudat ini merupakan perkembangan dari zikir zaman dan burdah, yaitu zikir yang disertai gerakan pencak silat. Burdah adalah nyanyian yang diiringi seperangkat rebana ukuran besar.
Pendapat lain mengatakan, konon tari ini berasal dari Turki yang masuk bersama penyebaran agama Islam di Indonesia pada abad XV. Itulah sebabnya, tarian ini kentara sekali warna Islamnya, terutama dalam lagu dan musiknya. Di Lombok Timur dapat kita jumpai dan saksikan hampir di semua Kecamatan.




Sejarah gendang beleq

Seperti contoh gambar diatas dahulu di Lombok, Gendang Beleq dijadikan penyemangat prajurit yang pergi berperang dan yang pulang dari peperangan dengan demikian Gendang Beleq dijadikan musik dalam peperangan. Kini Gendang Beleq digunakan sebagai musik pengiring dalam upacara-upacara adat seperti Merariq (pernikahan), sunatan (khitanan), Ngurisang (potong rambut bayi atau aqiqah) dan begawe beleq (upacara besar).
Gendang Beleq dimainkan secara berkelompok membentuk  Orkestra Gendang Beleq terdiri dari dua Gendang Beleq yang disebut mama (laki-laki) dan gendang nina (perempuan) yang berfungsi sebagai pembawa dinamika Juga terdiri atas sebuah Gendang Kodeq (gendang kecil), perembak belek dan perembak kodeq sebagai alat ritmis, gong dan dua buah reog, yakni reog nina dan reog mama sebagai pembawa melodi Pemain Gendang Beleq memainkan Gendang Beleq sambil menari Pemain Gendang beleq terdiri dari 13 sampai 17 orang.
Gendang Beleq memiliki nilaifilosofis dan juga disakralkan oleh masyarakat Suku Sasak. Masyarakat Sasak menilai Gendang Beleq memiliki nilai keindahan, ketekunan, kesabaran, kebijakan, ketelitian, dan kepahlawanan.Nilai-nilai tersebut selalu diharapkan menyatu dengan hati masyarakat Suku Sasak